Minggu, 19 Agustus 2012

Makalah Pengaruh Hindu Budha di Indonesia


BAB I
PENDAHULUAN
Kebudayaan yang berkembang di Indoneisa pada tahap awal diyakini berasal dari India. Pengaruh itu diduga mulai masuk pada awal abad masehi. Apabila kita membandingkan peninggalan sejarah yang ada di Indonesia akan ditemukan kemiripan itu. Sebelum kenal dengan kebudayaan India, bangunan yang kita miliki masih sangat sederhana. Saat itu belum dikenal arsitektur bangunan seperti candi atau keraton. Tata kota di pusat kerajaan juga dipengaruhi kebudayaan hindu. Demikian pula dalam hal kebudayaan yang lain seperti peribadatan dan kesastraan.
Candi Prambanan merupakan salah satu peninggalan agama hindu yang ada di Jawa Tengah. Sedangkan Borobudur adalah merupakan candi peninggalan agama budha. Agama hindu dan budha masuk di berbagai tempat di Indonesia melalui berbagai jalur, antara lain pendidikan, perdagangan, dan lain-lain. Agama budha berkembang lebih dahulu, bahkan untuk beberapa waktu, Indonesia (sriwijaya) pernah menjad pusat pendidikan dan pengetahuan agama budha yang bertaraf internasional.















BAB II
PEMBAHASAN
A.   Perkembangan Agama Hindu-Buddha di Indonesia
1.       Masuk dan Berkembangnya Agama Hindu dan Buddha di Indonesia
Ikut sertanya Indonesia dalam perdagangan Internasional mengakibatkan berbagai pengaruh asing massuk ke nusantara. Salah satunya adalah agama hindu dan buddha yang besar pengaruhnya diberbagai bidang. Sejak abad pertama masehi bangsa Indonesia sudah menjalin hubungan dagang dengan India. Selain emas, bangsa India juga memerlukan barang-barang lain, seperti kayu cendana, cengkeh dan lada. Dari India, para pedagang membawa hasil negerinya yang diperlukan di Indonesia, seperti wangi-wangian, gading gajah, permadani, dan permata. Sebelum bangsa Indonesia berhubungan dengan bangsa India, bangsa Indonesi telah memiliki kebudayaan asli dari zaman prasejarah.

2.       Masuk dan Berkembangnya Budaya Hindu-Buddha di Indonesia
Proses masuk dan berkembangnya pengaruh India di Indonesia disebut penghinduan atau Hinduisasi. Dari hubungan perdagangan, muncul beberapa teori mengenai proses masuknya budaya Hindu-Buddha ke Indonesia. Teori-teori tersebut antara lain sebagai berikut:
·      Teori Sudra
Para tokoh yang setuju teori ini menyatakan bahwa penyebaran agama hindu ke Indonesia dibawa oleh orang-orang India yang berkasta sudra. Alasannya karenaa mereka dianggap sebagai orang-orang buangan dan hanya hidup sebagai budak sehingga mereka datang ke Indonesia dengan tujuan untuk mengubah kehidupannya. Pendukung teori ini adalah Von Van Faber.
·      Teori Waisya
Kasta waisya terdiri atas para pedagang. Menurut teori ini, para pedagang dari India berlayar hingga ke Indonesia. Melaui interksi dengan masyarakat setempat, mereka pun berhasil memperkenalkan agama hindu. Tokoh yang mengemukakan pendapat tersebut adalah Dr. N.J. Krom. Ia berpendapat bahwa agama hindu masuk ke Indonesia dibawa oleh kaum pedagang yang datang untuk berdagang di Indonesia, bahkan diduga ada yang menetap karena menikah dengan orang Indonesia.
·      Teori Kesatria
Teori ini menyatakan bahwa penyebaran agama Hindu ke indonesia terjadi karena adanya kekacauan politik di India. Golongan kesatria yang kalah melarikan diri ke Indonesia dan menyebarkan agama Hindu. Prof. Dr. Ir. J. L. Moens berpendapat bahwa yang membawa agma Hindu ke Indonesia adalah kaum kesatria atau golongan prajurit. Hal ini di latar belakangi adanya kekacauan politik dan peperangan di india pada abad IV-V masehi. Para prajurit yang kalah perang terdesak dan menyingkir ke Indonesia,bahkan diduga mendirikan kerajaan di Indonesia.
·      Teori Brahmana
Kedatanagan kaum brahmana ke Indonesia di duga untuk memenuhi undungan kepala suku yang tertaik dengan agama Hindu. Tokoh yang mengemukakan pendapat tersebut adalah J.C. Van Leur. Ia perpendapat bahwa agama Hindu masuk ke Indonesia di bawah oleh kaum brahmana karena hanya kaum brahmana yang berhak mempelajari dan mengerti isi kitab suci Weda. Kedatangan kaum brahmana tersebut di duga karena undangan para pengusa lokal di Indonesia atau sengaja datang untuk menyebarkan agama Hindu ke Indonesia.
Ketiga teori tersebut sebetulnya juga memiliki kelemahan. Golongan kesatria dan waisya tidak menguasai bahasa Sanskerta. Oleh karena itu, kecil kemungkinan bagi mereka untuk menyebarkan agama Hindu yang berintikan bahasa Sanskerta. Kita ketahui bahwa bahasa sanskerta adalah bahasa sastra tertinggi yang di pakai dalam kitab suci Weda. Sebalikya, meskipun menguasai bahasa Sanskerta golongan brahmana tidak boleh menyeberangi laut. Hal ini di dasarkan pada kepercayaan Hindu kolot yang memiliki pantangan tersebut
·      Teori Arus balik
Teori ini di kemukakan oleh F.D.K Bosch. Ia mengemukakan peranan bangsa Indonesia sendiri dalam penyebaran dan pengembangan  agama hindu. Penyebaran budaya India di Indonesia dilakukan oleh kaum terdidik. Akibat interaksinya dengan para pedagang India, di Indonesia terbentuk masyarakat Hindu terdidik yang di kenal dengan sangha. Mereka giat mempelajari bahasa Sanskerta, kitab suci, sastra, dan budaya tulis. Mereka kemudian memperdalam agama dan kebudayaan Hindu di India. Sekembalinya ke Indonesia mereka mengembangkan agama dan kebudayaan tersebut. Hal ini bisa diliat dari peninggalan dan budaya yang memiliki corak keindonesiaan.
Itulah empat teori tentang masuknya agama dan kebudayaan India ke Indonesia. Ke empat teori tesebut menyebut faktor perdagangan sebagai penyebab masuknya Hindu- Budha ke Indonesia. Bisa jadi interaksi antara bangsa Indonesia dan India mustahil terjadi jika tidak ada kontak dagang. Oleh karena itu, tidak aneh jika di berbagai daerah di temukan peninggalan Hindu- Budha
Masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Hindu-Buddha membawa pengaruh besar di berbagai bidang, meliputi sebagai berikut.
·      Agama, rakyat Nusantara memelk agama Hindu-Buddha.
·      Pemerintahan, munculnya kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha.
·      Tulisan dan bahasa, rakyat Indonesia mengenal huruf Pallawa dan Sansekerta yang dituliskan pada prasasti-prasasti.
·      Arsitektur, seni bangunan bercorak Hindu-Buddha berasimilasi dengan seni bangunan Indonesia, misalnya banhunan candi.
·      Kesusastraan, munculnya kitab-kitab sastra bercorak Hindu-Buddha.

3.       Perkembangan Agama Buddha di Asia Selatan, Asia Timur, dan Asia Tenggara
Agama Buddha mengalami perkembangan pesat di India pada masa pemerintahan Raja Ashoka Vardhana (273-232 SM) dan agama Buddha dijadikan agama negara.
Di Asia Tengah, agama Buddha mengalami perkembangan pesat, masuk ke Cina pada tahun 65 M melalui para rahib yang tinggal di Biara sepanjang jalur Jalan Sutra. Di Tibet pemimpin Buddha disebut Lama. Agama Buddha masuk ke Kerajaan Cina masa Dinasti Han. Aliran Budddha Mahayana banyak dianut rakyat Cina.
Sekitar tahun 108 M Kerajaan Cina menaklukan Korea (Kerajaan Paikche). Hal ini mengakibatkan agama Buddha masuk ke Korea. Dari koreaa agama Buddha berkembang ke Jepang pada tahun 538 M. Raja Paikche mengirimkan bingkisan berupa arca Buddha dan naskah-naskah ajaran Buddha kepada tenno di Yamato.
Masuknya Buddha di kawasan Asia Tenggara melalui jalur perdagangan laut. Negara-negara Asia Tenggara yang mendapat pengaruh Buddha, antara lain sebagai berikut.
·         Thailand           : di Kerajaan Sukothai dan Ayuthia
·         Myanmar         : berkembang masa pemerintahan Raja Anawasta (1044-1077 M)
·         Laos                   : berkembang pada masa Kerajaan Lan Xang
·         Kamboja          : masa Raja Jayamarwan VII tahun 1211-1219 M
·         Nusantara       : berkembang pesat di Kerajaan Sriwijaya sekitar abad ke-9.
Penyebaran agama Buddha dilakukan oleh sebuah misi yang dikenal dengan Dharmaduta. Para ahli memperkirakan pada abad II Masehi agama Buddha masuk ke Indonesia. Pendaapat mereka diperkuat dengan adanya penemuan arca Buddha yang terbuat dari perunggu di Sempaga (Sulawaesi Selatan), jember (Jawa Timur), dan Bukit Siguntang (Sumatera Selatan). Dilihat dari ciri-cirinya, arca tersebt berasal dari langgam Amarawati (India Selatan) dari abad II-V Masehi. Selain itu, ditemukan juga arca perunggu berlanggam Gandhara (India Utara) di Kota Bangun, Kutai(Kalimantan Timur).
Agama Buddha masuk ke Indonesia dibawa oleh para biksu. Para biksu meyebarkan agama Buddha di Indonesia, diantaranya berasal dari Kashmir yang bernama Gunawarman (420 M). Pada masa-masa berikutnya pengaruh budaya dan agama buddha ibawa oleh orang-orang Indonesia sendiri yang belajar di perguruan tinggi Nalanda, India. Agama Buddha yang tersiar di Indonesia terutama dari aliran Mahayana. Ajaran agama Buddha bersumber dari kitab suci “Tripitaka”.

4.       Daerah-Daerah Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia sampai dengan Abad ke-14
Daerah-daerah yang dipengaruh unsur budaya Hindu-Buddha di Indonesia sampai abad ke-14 semakin luas. Di Sumatera, pengaruh Buddha lebih kuat dibanding pengaruh Hindu. Hal ini terbukti dengan berdirinya Kerajaan Sriwijaya yang menjadi pusat penyebaran dan pengembangan agama Buddha di Asia Tenggara. Pusat-pusat agama Hindu antara lain terdapat di wilayah Jawa, Bali, dan Kalimantan. Bukti tertulis yang menjelaskan yaitu adanya prasasti Yupa yang di temukan di temukan di wilayah Sulawesi Selatan.
Sementara di wilayah Indonesia Timur, pengaruh unsur Hindu-Buddha masih terbatas, yaitu hanya sebagian di wilayah P. Buru dan Seram, sedangkan daerah lainnya masih menganut kepercayaan nenek moyang.
Faktor penyebab tidak masuknya pengaruh Hindu-Buddha ke wilayah timur Indonesia, anatara lain sebagai berikut.
a.       Kawasannya sangat luas.
b.      Wilayah Indonesia bagian timur terlalu jauh untuk dijangkau.
c.       Wilayah Indonesia terdiri atas ribuan pulau yang terhampar dari barat sampai timur.

5.       Pengaruh Agama Hindu-Buddha di Indonesia
a.       Bidang Kepercayaan
Sebelum budaya India masuk, di Indonesia telah berkembang kepercayaan yang berupa pemujaan terhadap roh nenek moyang. Kepercayaan itu bersifat Animisme dan Dinamisme. Animisme merupakan satu kepercayaan terhadap suatu benda yang dianggap memiliki roh atau jiwa sedangkan dinamisme merupakan satu kepercayaan bahwa setiap benda memiliki kekuatan gaib. Dengan masuknya kebudayaan India, penduduk Nusantara secara berangsur-angsur memeluk agama Hindu dan Buddha, diawalai oleh lapisan elite para datu dan keluarganya.
b.      Bidang Sosial
Dalam sistem pemerintahan asli Indonesia, masyarakat Indonesia tesusun dalam kelompok-kelompok desa yang dipimpin oleh kepala suku. Sistem itu kemudian terpengaruh oleh ajaran   agama Hindu-Buddha sehingga timbul kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha.
c.       Bidang Teknologi
Peninggalan Hindu-Budhadalam bidang seni bangunan (arsitektur) yang berkembang di Indonesia adalah yang berupa candi, yupa, dan prasasti. Candi di Indonesia berbentuk punden bertingkat yang digunakan sebagi makam raja dan bagian atas punden bertingkat dibuatkan patung rajanya. Adapun Candi ddi India berbentul Stupa bulat yang digunakan sebagai tempat sembahyang atau memuja dewa. Candi yang bercorak Hindu antara lain Candi Prambanan dan Candi Dieng. Candi yang bercorak Buddha antara lain Candi Borobudur dan Candi Kalasan.
d.      Bidang Kesenian
Dalam bidang seni rupa, pengaruh Hindu-Buddha berupa hiasan-hiasan pada dinding candi (relief) yang sesuai dengan unsur India. Di bidang seni sastra, pengaruh tradisi Hindu-Buddha berupa penggunaan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta pada  prasasti-prasasti.Ada juga hasil kesusastraan Indonesia yang sumbernya dari India,yaitu cerita ramayanadan mahabarata yang di jadikan lakon wayang.banyak kitab Hindu-Budha yang menjadi aset bangsa saat ini,diantaranya Negarakertagama dan baratayudha.
e.      Bidang Pendidikan
Di bidang pendidikan, pengaruh tradisi Hindu-Buddha dapat kita lihat bahwa sampai akhir abad ke-15, ilmu pengetahuan berkembang pesat, khususnya di bidang sastra, bahasa, dan hukum. Kaum Brahmana adalah kelompok yang berwewenang memberikan pendidikan dan pengajaran dalam masyarakat Hindu-Buddha. Ssalah satu hasil dari perkembangan pendidikan, di kemukakan oleh  I-Tsing, bahwa di Sriwijaya terdapat “Universitas” yang dapat menampung ratusan mahasiswa birawan Buddha untuk belajar agama.
B.      Berkembangnya Kerajaan-Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia
Salah satu pengaruh India yang berkembang di Indonesia adalah munculnya kerajaan. Setiap kerajaan dipimpin oleh seorang raja yang memiliki kekuasaan mutlak dan turun-temurun. Ada kerajaan yang berada pedalaman dengan mengandalkan bidang agraris, ada pula yang terletak di pesisir pantai dengan mengandalkan kegiatan bahari.
1.       Kerajaan Kutai
Kerajaan Kutai berkembang pada abad V masehi. Sumber mengenai kerajaan ini berupa prasasti yang berbentuk tujuh buah yupa yang menggunakan huruf pallawa dan bahasa sansekerta. Raja terbesar kerajaan kutai adalah Mulawarman. Mulawarman adalah putra Aswawarman dan Aswawarman adalah putra Kudungga. Keluarga Kudungga pernah melakukan Vratyastoma, yaitu uapacara pencucian diri untuk masuk agama Hindu. Aswawarman disebut dalam yupa sebagai dewa Ansuman atau dewa matahari dan dipandang sebagai Wangsakerta, atau pendiri keluarga raja.
Raja Mulawarman pernah mengadakan kurban 20.000 ekor lembu untuk para brahmana di tanah suci Waprakeswara. Waprakeswara adalah tempat suci untuk memuja dewa Syiwa (di Jawa disebut Baprakeswara). Para ahli menyimpulkan bahwa agama yang dianut Mulawarman adalah Hindu Syiwa.
2.       Kerajaan Tarumanegara
Sumber mengenai kerajaan Tarumanegara berasal dari tujuh buah prasasti berbahasa sansekerta dan huruf pallawa. Prasasti tersebut adalah prasasti Ciaruteun, Kebun Kopi, Jambu, Tugu, Pasar Awi, Muara Cianten, dan Lebak. Seorang musafir Cina bernama Fa-Hsien pernah datang di Jawa pada tahun 414 M. Ia telah menyebut keberadaan kerajaan To-lo-mo atau Taruma di Pulau Jawa.
Kerajaan Tarumanegara diperkirakan berkembang pada abad V M. Raja terbesar yang berkuasa adalah Purnawarman. Wilayah kekuasaan Purnawarman meliputi hapir seluruh Jawa Barat dengan pusat kekuasaan di daerah Bogor, Raja pernah memerintahkan pembangunan irigasi dengan cara menggali sebuah saluran panjang 6.112 tumbak (± 11 km). Saluran itu selain berfungsi untuk mencegah bahaya banjir. Saluran ini selanjutnya disebut sebagai sungai Gomati. Setelah selesai panggalian, Raja mengadakan upacara kurban dengan memerikan hadiah 1.000 ekor lembu bada Brahmana.
3.       Kerajaan Sriwijaya
Keberadaan kerajaan ini diketahui melalui enam buah prasasti yang menggunakan bahasa melayu kuno dan huruf pallawa, serta telah menggunakan angka tahun saka. Prasasti tersebut adalah Kedukan Bukit, Talang Tuo, Telaga Batu, Kota Kapur dan Karang Berahi. Nama Sriwijaya juga terdapat dalam berita Cina dan disebut Shih-lo-fo-shih atau Fo-shih. Sementara itu di berita Arab, Sriwijaya disebut dengan Zabag atau Zabay atau dengan sebutan Sribuza. Seorang pendeta Cina yang bernama I-Tsing sering dataang ke Sriwijaya sejak tahun 672 M. Ia menceritakan bahwa di Sriwijaya terdapat 1.000 orang pendeta yang menguasai agama seperti di India. Berita dari Dinasti Sung juga menceritakan tentang pengiriman utusan dari Sriwijaya tahun 971-992 M.
Raja pertama Sriwijaya adalah Dapunta Hyang Sri Jayanaga. Raja yang terkenal dari kerajaan Sriwijaya adalah Balaputradewa. Ia memerintah sekitar abad IX M. Sriwijaya merupakan pusat pendidikan dan penyebaran agama Buddha di Asia Tenggara. Menurut berita I-Tsing, pada abad VIII M di Sriwijaya terdapat 1.000 oarang pendet yang belajar agama Buddha di bawah bimbingan Sakyakirti. Menurut prasasti Nalanda, para pemudu Sriwijaya juga mempelajari agama Buddha dan ilmu lainnya di India. Kebudayaan Kerajaan Sriwijaya sangat maju dan bisa dilihat dari peninggalan suci sepeti stupa, candi, atau patung/arca Buddha seperti ditemukan di Jambi, Muara Takus, dan Gunung Tua (Padang Lawas) serta di Bukit Siguntang (Palembang).
4.       Kerajaan Mataram Hindu
Keberadaan kerajaan Mataram dapat diketahui melalui Prasasti Canggal (723 M), Kalasan (778 M), Mantyasih (907 M), dan Klurak (782 M). Semua prasasti ditulis dengan huruf pranagari dan bahasa sansekerta. Kejayaan kerajaan Mataram terlihat pada bangunan-bangunan Candi seperti Dieng, Gedong Sanga, Borobudur, Mendut, Plaosan, Prambanan, dan Sambi Sari.
Kerajaan Mataram di perintah dua dinasti atau wangsa Sanjaya (Hindu Syiwa) dan Syailendra (Buddha). Raja-raja yang berkuasa dari keluarga Syailendra tertera dalam prasasti Ligor, Nalanda, maupun Klurak. Raja-raja dari dinasti Sanjaya tertera dalam prasasti Mantyasih. Kedua dinasti tersebut akhirnya bersatu dengan adanya pernikahan Rakai pikatan dengan Pramudyawardani (putri dari Samaratungga). Pada masa pemerintahan Wawa (abad X M), Mataram mengalami kemunduran dan pusat pemerintahan dipindahkan ke Jawa Timur oleh Mpu Sendok. Dinasti Isyana berdiri dengan kerajaannya adalah Medang Mataram.
5.       Kerajaan Medang Kamulan
Kerajaan Medang Kamulan merupakan kelanjutan dari Kerajaan Mataram di Jawa Tengah. Kerajaan Medang Kamulan diperkirakan terletak di Lembah Sungai Brantas, wilayahnya meliputi Nganjuk, Surabaya, Pasuruan, dan Malang. Sumber sejarahnya, antara lain sebagai berikut.
a.    Prasasti Empu Sindok (933 M) ditemukan di Desa Tengeran, Jombang.
b.    Prasasti Ladang/Candi Lor (939 M) berbentuk Tugu.
c.     Prasasti Kalkuta, dibuat masa Raja Airlangga.
d.    Berita dari Cina masa Dinasti Sung.
Kerajaan Medang Kamulan pendirinya adalah Empu Sindok sekaligus pendiri Dinasti Isyana. Beliau memerintah dengan adil dan bijaksana. Masa pemerintahannyaagama Hindu dan Buddha hidup berdampingan. Empu Sindok digantikan dengan cucunya yaang bernama Dharmawangsa. Ia bercita-cita menguasai jalur perdagangan dan pelayaran Nusantara yang ketika itu dikuasai Sriwijaya. Untuk itu, pada tahun 991M Dharmawangsa menyerang Malaka dan Sriwijaya.
Pada tahun 1017 M Kerajaan Medang mengalami Pralaya akibat serangan dari Wurawari. Airlangga berhasil meloloskan diri. Pada tahun 1023 Airlangga dinobatkan menjadi Raja Medang menggantikan Dharmawangsa. Ia berhasil menyatukan kembali kerajaan, memindahkan ibu kota Kerajaan Medang dari Wutan Mas ke Kahuripan tahun 1031, memperbaiki pelabuhan Ujung Galuh, dan membangun bendungan Wringin Sapta. Pada tahun 1041 Airlangga mundur dari takhtanya dan membagi kekuasaan menjadi dua kerajaan yaitu Jenggala dan Panjalu dengan batas Sungan Brantas. Pembagian kerajaan dilakukan oleh seorang brahmana yang terkenal kesaktiannya, yaitu Mpu Bharada.
6.       Kerajaan Kediri
Kerajaan kediri semula bernama panjalu (bagian dari Medang Mataram). Kisah kerajaan ini termuat dalam prasasti Banjaran (1052 M) yang menjelaskan kemenangan Panjalu atas Jenggala dan prasasti Hantang (1052 M) yang menjelaskan Panjalu pada masa Jayabaya. Selain itu, ada kakawin Bharatayuda karya Mpu Sedah dan Panuluh tahun 1156 M yang menceritakan Kediri/Panjalu atas Janggala. Berita Cina yang berjudul Ling-mai-tai-ta yang ditulis oleh Cho-ku-fei tahun 1178 M dan kitab Chu-fan-chi yang ditulis oleh Chau-Ju-Kua tahun 1225 M.
Raja Kediri yang terkenal antara lain Raja Kameswara (1115-1130 M). Ia menggunakan lencana Candrakapala, yaitu tengkorak yang bertaring. Raja Jayabaya memerintah tahun 1130-1160 mempergunakan Narasingha, yaitu setengah manusia setengah singa. Pada tahun 1181 pemerintahan Raja Sri Gandra ditandai dengan penggunaan nama-nama binatang sebagai namanya seperti Kebo Salawah, Manjangan Puguh, Macan Putih, dan Gajah Kuning. Kertajaya menjadi Rajaa Kediri tahun 1200-1222. Ia memakai lencana Garudamuka seperti Raja Airlangga, mtetapi kurang bijaksana dan tidak disukai oleh rakyat terutama kaum brahmana. Hal inilah yang akhirnya menjadi penyebab berakhirnya Kerajaan Kediri karena kaum brahmana meminta perlindungan kepada Ken Arok di Singasari sehingga pada tahun 1222 Ken Arok berhasil menghancurkan Kediri.
7.       Kerajaan Singasari
Keberadaan Kerajaan Singasari didasarkan pada kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca yang menjelaskan raja-raja yang memerintah di Singasari serta kitab Pararaton yang juga menceritakan keajaiban Ken Arok. Ken Arok semula sebagai akuwu (bupati) di Tumapel menggantikan Tunggul Ametung yang dibunuhnya karena tertarik kepada Ken Dedes isteri Tunggul Ametung. Pada tahun 1222 M Ken Arok menyerang kediri sehingga Kertajaya mengalami kekalahan pada pertempuran di desa Ganter. Ken Arok menyatakan dirinya sebagai Raja Singasari dengan gelar Sri Rangga Rajasa Bhattara Sang Amurwabhuni.
Raja Singasari yang terkenal adalah Kertanegara Karena di bawah pemerintahannya Singasari mencapai puncak kebesarannya. Kertanegara bergelar Sri Maharajaderaja Sri Kertanegara mempunyai gagaasan politik untuk memperluas wilayah kekuasannya, menyingkirkan lawan-lawan politiknya, menumpas pemberontakan, menyatukan agama Syiwa dan Buddha menjadi agama Tantrayana (Syiwa Buddha dipimpin oleh Dharma Dyaksa), melakukan politik perkawinan, dan mengirim ekspedisi Pamalayu tahun1275. Setelah Kertanegara meninggal karena serbuan tentara kubilai khan dari Mongol dan serangan Jayakatwang dari kediri tahun 1292, diberi penghargaan di Candi Jawi sebagai Syiwa Buddha, di Candi Singasari sebagai Bhairawa dan di Sagala sebagai Jina (Wairocana) bersama permaisurinya Bajradewi. Penginggalan Singasari antara lain Candi Kidal, Candi Jago, Candi Singasari, dan Putung Joko Dolok (Perwujudan Kartanegara).
8.       Kerajaan Majapahit
Sumber kerajaan Majapahit berupa kitab. Kitab Pararaton yang menjelaskan tentang raja-raja Majapahit. Kitab Negarakertagama (karya Mpu Prapanca pada tahun 1365) menjelaskan keadaan kota Majapahit, daerah jajahannya, dan perjalanan Hayam Wuruk mengelilingi daerah kekuasaaanya. Kitab Sundayana menjelaskan tentang Perang Bubat. Kitab Usaha  Jawa menjelaskan tentang penaklukan Pulau Bali oleh Gajah Mada dan Arya Damar. Berita-berita Cina dari Dinasti Ming (1368-1643) dan Ma-Huan dalam bukunya Ying Yai menceritakan tentang keadaan masyarakat dan kota Majapahit tahun 1418 serta berita dari Portugis tahun 1518.
Raden Wijaya berhasil memanfaatkan tentara Kubilai  Khan untuk menyerang Jayakatwang di Kediri. Pada tahun 1293 Raden Wijaya dinobatkan menjadi Raja pertama Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawisnuwardhana. Raja berikutnya adalah Jayanegara dan Tribuana Tungga Dewi. Pada tahun 1350 Majapahit diperintah oleh Hayam Wuruk yang bergelar Rajasanegara. Ia didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada, Adityawarman, dan Mpu Nala sehingga pada masa tersebut Majapahit mencapai puncak kebesarannya. Daerah kekuasaanya hampir meliputi seluruh Nusantara dan Majapahit berkembang sebagai kerajaan maritim sekaligus kerajaan agraris. Untuk menguasai Pajajaran, Gajah Mada melakukan politik perkawinan yang berakibat  terjadinya peristiwa Bubat tahun 1357. Dalam rangka menjalin persahabatan dengn negara-negara btetangga Majapahit menerapkan Mitreekasatata yang berarti sahabat atau sahabat sehaluan atau hidup berdampingan secara damai. Sepeniggal gaja mada(1364) dan Hayam wuruk tahun (1389), takhta Majapahit diduduki oleh Wikramawardhana. Pada tahun 1389-1429 Majapahit diwarnai oleh Perang Paregreg atau perang saudara antara Wikramawardhana dengan Bhre Wirabumi. Inilah awal kehancuran Majapahit yang ditandai dengan candrasengkala ilang sima kertaning bhumi. 
9.       Kerajaan Holing (Kaling)
Keberadaan kerajaan ini diketahui dari kitab sejarah Dinasti Tang (618-906). Diperkirakan Kerajaan Ho-ling atau Kaling terletak di Jawa Tengah
Nama ini diperkirakan berasal dari nama sebuah kerajaan di India Talingga. Tidak ditemukan peninggalan yang berupa prasasti dari kerajaan ini. Menurut berita Cina, kotanya dikelilingi dengan pagar kayu rajanya beristanaa di rumah yang bertingkat, yang ditutup dengan atap; tempat duduk sang raja terbuat daari gading. Orang-orangnya sudah pandai tulis-menulis dan mengenali ilmu perbinatangan. Dalam berita cine tersebut adanya ratu His-mo atau sima, yang memerintah pada tahun 674. Beliau terkenal sebagai raja yaang tegas,  jujur, da bijaksana. Hukum dilaksanakan dengan tegas. Pada masa ini, agama Buddha berkembang bersama agamaa Hindu. Hal ini dapat terlihat dengan datangnya ;;pendeta Cina Hwi Ning di Kaling dan  tinggal selam 3 tahun. Degan bantuan seorang pendeta setempat yang bernama Jnanabhadra, Hwi Ning menerjemahkan kitab Hinayanaa dari bahasa sansekerta.       



       













                                                           
BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Interaksi bangsa Indonesia dengan bangsa India menghasilkan kebudayaan yang monumental. Gugusan candi Gedong Sanga terlihat anggun di jajaran pegunungan Ungaran. Candi tersebut dibangun pada masa awal kedatangan pengaruh Hindu di Indonesia.
Selain bangunan candi, di berbagai daerah juga ditemukan peninggalan sejarah yang lain. Pengaruh India lain yang masuk Indonesia adalah Buddha. Seperti halnya Hindu, pengaruh Buddha juga meninggalkan beragam bentuk peninggalan sejarah.
B.    Saran
Demikian makalah ini kami sajikan, kami selaku penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar dapat memotivasi kami dalam pembuatan makalah berikutnya yang lebih  baik lagi.
Kami memohon maaf apabila ada kesalahan kata dan penulisan karena kekurangan hanya milik kami dan kesempurnaan hanya milik ALLAH SWT.

2 komentar:

  1. Trim's
    Sangat membantu untuk pelajaran sejarah!

    BalasHapus
  2. thanks gan, sayangnya gak ada footnotenya

    BalasHapus